Imlek yang bahagianya tidak terlupakan

Imlek tahun Tikus Logam ini saya rayakan bersama keluarga suami di Jakarta. Walaupun rasanya ingin merayakan di Bandung, tapi karena kebetulan semua pergi jadi saya dan suami memutuskan untuk PP ke ibu kota. Rasanya sudah lama banget gak ketemu semua keluarga besar ini. Kami memulai perjalanan pertama ke keluarga di Kelapa Gading. Rasanya kangen banget , disambut dengan Kionghi (salam Imlek) dan pelukan hangat Jipe (Kakak Kedua Papi Mertua saya), kakak-kakak sepupu Arnold yang mayoritas laki-laki dan tentu saja istri dan anak-anaknya yang sudah lama banget gak ketemu mengobati kangen kami. Canda gurau dan tentu saja ajang anak-anak ngumpulin angpau dari yang sudah menikah. Arsten anak saya jarang merayakan Imlek, maklum berhubung saya dan keluarga sudah tidak terlalu merayakan Imlek secara khusus, jadi dia agak-agak lupa tata cara Imlek-an. Tapi setelah kursus di pagi hari selama perjalanan ke Jakarta, dia hafal untuk melakukan salam Imlek (kionghi) ke semua dan peluk cium mereka satu-satu, alhasil angpau-nya banyak. Dan dia langsung bilang, aku mau tabung buat beli mobil. Wkwkwkw… dasar anak-anak.

Baru ketemu lagi setelah hampir 7 tahun gak ketemu
Hasil foto-foto di sop pertama hari ini

Lokasi kedua adalah tempat makan kecil-kecilan milik salah satu sepupu suami. Kedai Mie bertajuk Bakmi BPJS yang harganya dibandrol murah meriah Rp 15.000,- saja semangkok, super ekonomis dan bikin kenyang disuguhkan sebagai menu pertama di Imlek tahun ini. Mau lihat penampakannya? mmm yummy…

ini penampakan bakmi BPJS ini, yummy karena dibonusin kulit pangsit yang melimpah ruah.
Ya, ini serunya kalau kita ngumpul, kerjanya ya makan dan pasti makan terus. Siap-siap gendut 😀

Lokasi berikutnya adalah rumah adik papi mertua nomor 5, disini semua ngumpul jadi satu, ramenya gak ketolong. Anak-anak tiba-tiba bisa main bareng tanpa ada rasa canggung, mereka langsung blend jadi satu. seru banget. Tentu saja angkatan saya gak kalah heboh, cerita dan pengalaman selama setahun diceritain abis-abisan, mulai dari soal banjir, soal anak, soal apapun, maklum karena sudah lama gak ketemu, rasanya gak mau berhenti cerita. Tapi yang bikin betah adalah makanannya, istri Om-nya Arnold ini memang jago masak, siomay, rendang bangka, pindang ikan, sop hisit pake samcan goreng dan banyak makanan yang namanya asing buat saya tapi semuanya yummy. Ditambah es sarang burung dan pudding acara makan-makan dan cerita-cerita ini makin seru.

Tuh makanannya kan bikin saya gak mau jauh-jauh dari meja makan.
Foto-foto seru pasti harus ada, gak boleh kelewatan.

Setelah asik berfoto dan asik curcol-curcol, saya lanjut ke perhentian selanjutnya, rumah kakak papi mertua saya yang pertama, rasanya kangen sekali ketemu Aem (panggilan untuk istrinya Om tertua). Hampir 5 tahun saya gak ketemu dia, walapun kesehatannya menurun dan rambutnya yang sudah memutih, tapi saya bersyukur beliau masih mengenali dan masih bisa bercanda gurau dengan kami anak-anaknya. Ya pasti diisini gak jauh-jauh dari makan dan makan lagi, lapis legit, sop perut ikan, mie goreng, sausages pastry jadi suguhan yang bikin perut saya super kenyang, dan diet saya sudah pasti gagal.

ini tempat terakhir kita muter-muter di Jakarta, cape, tapi super hepi.

Kenyang sampai malam, itu yang saya rasakan selama di perjalanan walaupun kami sempat stop by untuk beli burger dan french fries di jalan. Gak ada yang lebih menyenangkan saat kita bersama orang yang kita sayang. Mau cape dan badan rontok pun rasanya gak ada masalah selama kita merasakan kebahagiaan karena keluarga kita yang warm dan supportive.

Happy Chinese New Year. Kionghi buat semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s